Tentang Bidadari  

Diposting oleh defrin


Memujimu seakan tak pernah menumakan kepuasan.entah apakah karena minimnya imajinasiku atau karena agungnya ke-indahanmu.kau adalah bintang kejora di kegelapan malam, meskipun sinar bintang tak secerah sinar wajahmu.ah…mungkin aku terlalu bodoh sampai menyamakanmu dengan bintang.”maaaf” hanya itu yang bisa ku ucapkan.karena selama ini aku tak pernah bisa menemukan sesuatu yang bisa menyaingi ke-indahanmu,tidak pernah!

pikiran bodohku tiba-tiba mengaung, kau adalah hujan di musim kemarau, tapi cepat-cepat ku muntahkan pikiran itu, karena sejuknya matamu tak sebanding dengan hujan di musim kemarau.terlalu indah!.sungguh terlalu indah.

kuberlari ke puncak gunung hanya ingin mencari sesuatu yang lebih tinggi dari kepribadianmu, tapi yang ku peroleh hanyalah letih dan tangan hampa.

setiap subuh ku sempatkan tanganku menyentuh setetes embun tapi yang ada hanyalah sampah ketika kubandingkan dengan kesucian hatimu.

Kau buatku gila ketika ku dengar suaramu, tiba-tiba tubuh ini gemetar dan aliran darah ku berhenti seketika, entak kenapa, mungkin dia terkejut setelah mendengar suara asli sang bidadari. Malah bukan hanya tubuhku, bumi dan planet-planet semuanya bergetar dan serempak berteriak inilah bidadariku…!

Wahai perempuan padang pasir, izinkan aku memandangmu meski hanya lewat mimpi busukku, karena sebenarnya aku tak pantas memandang seluruh ke indahanmu dengan mata kasatku yang sangat sederhana ini.

Adalah engaku wahai dewi kesunyian yang selalu hadir ketika dahaga menyengat, ketika tubuh tak kuasa tegak berdiri, ketika mulut tak lagi berucap, kau tiba-tiba hadir dengan kepakan sayapmu, sesekali kurasakan desiran darah di tubuhku tiba-tiba berhenti,sel darah putih, sel darah merah, pembuluh nadi, semuanya hormat atas kehadiranmu, otakku yang sebelumnya sibuk tiba-tiba tak berfungsi dia terkejut atas kelembutanmu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Ketika itu pula aku terpana, tak berucap, tak bergerak, aku mati tapi masih bernafas.aku gila, aku bodoh ketika itu.sang matapun tak pernah sudi untuk menutup kelopaknya.dia sesekali sinkron dengan bibir dan memaksanya untuk senyum. Sang bibir senyum meski tak manis.lalu dia bangunkan sang telinga yang dari tadi masih khusuk menjamah suara bidadari.

Aku menyesal mengenalmu, karena setelah aku kenal kamu pikiranku kacau yang ada di otakku hanyalah kamu, kamu dan kamu…bidadari malamku…

Semoga tuhan mempertemukan kita dalam hubungan yang di ridhoi-Nya,

Satu kata buatmu “ku mencintamu karenaMu”

Pesantren dalam menghadapi Era globalisasi  

Diposting oleh defrin


Prolog

Satu-satunya institusi pendidikan di Indonesia yang berlabel Islam adalah “pesantren”,Kata ‘pesantren’ sendiri berasal dari kata ‘santri’, “yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri”. Sebagai lembaga, pesantren dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-niali keislaman dengan titik berat pada pendidikan.

Pesantren juga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik pada pencerahan akal (kecerdasan emosional) saja akan tetapi juga mendidik terhadap pencerahan jiwa (kecerdasan spritual).pesantren juga merupakan satu-satunya lembaga keagamaan yang “asli produk” Indonesia.

Sejarah perkembangan pesantren

Zamakhsyari Dhofier, dalam karyanya ‘Tradisi Pesantren’ menyatakan bahwa untuk berstatus sebagai pesantren di Indonesia harus memenuhi lima persyaratan diantaranya adalah: pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan seorang kiyai. Namun banyak juga pesantren yang tidak memenuhi kreteria di atas, walaupun mungkin merupakan unsur dasar komposisi pesantren, Sebagai contoh misalnya, pada tahun 1980-an satu pesantren namanya Pabelan Yogyakarta, menjadi terkenal atas kurikulum modernnya yang mengajarkan ketrampilan- ketrampilan teknis yang bisa dimanfaatkan saat kembali ke desa.

Lambat laun seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, pesantren dituntut untuk tetap eksis dalam menjawab tantangan zaman.maka terjadilah perombakan dalam tubuh pesantren di indonesia. Ada yang sebagian banting setir dan mengubah kurikulum pesantrennya dengan kurikulum umum dengan memasukkan kurikulum umum 70% sedangkan kurikulum agama hanya 3%, dan ada pula yang masih konsist dengan tradisionalnya(salafi)

Pesantren tradisional (salafi) “merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama pada masa depan, sekaligus sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern”.

Isltilah pesantren tradisional digunakan untuk menunjuk ciri dasar perkembangan pesantren yang masih bertahan pada corak generasi pertamaatau generasi salafi, dan untuk membedakan dengan sejumlah pesantren yang telah melakukan penyesuaian dengan lembaga-lembaga yang mengklaim dirinya sebagai ‘pesantren modern’.

Dari satu sisi, pesantren tradisional lebih terkenal atau cenderung mempertahankan pergunaan metode pembelajaran tradisional. Dalam metode ini kiyai aktif dan santri pasif. Secara teknis metode seperti ini bersifat individu. Kiayi sebagai pembaca dan penterjemah, bukanlah sekedar membaca teks, melainkan juga memberikan pandangan-pandangan pribadi, baik mengenai isi maupun bahasnya. Kedua metode ini sering dikritisi sebagai terlalu statis dan tradisional. Atau sebagai metode pembelajaran yang mengharuskan para santri diam dan pasif dan tidak berani berbeda pendapat. Satu kritisi dewasa ini adalah bahwa metode pembelajaran tradisional ini menyababyan para santri “terbiasa berpikir dan melihat sesuatu secara hitam-putih atau benar-salah tanpa ada peluang alternatif”.

Beda halnya dengan pesantren yang berbasis modern, model pesantren semacam ini lebih mentitik beratkan kegiatan- kegiatan ekstra kurikuler dari pada kegiatan-kegiatan intra kurikuler. Contohnya, pelatihan pramuka, pelatihan pengembangan bahasa dan lain sebagainya. Dalam pesantren ini peran seorang kyai tidak terlalu masuk kedalam kegiatan-kegiatan santrinya akan tetapi ada tangan kanan kyai yang selalu memantau kegiatan santri, biasanya dalam pesantren ini struktur kepengurusannya lebih rapi dibandingkan dengan pesantren tradisional.

Sistem pembelajarannya pun tergolong berbeda, kalau dalam pesantren tradisional sang kyai yang aktiv, maka kalau dalam pesantren modern sang santri yang dituntut lebih aktiv dari kyainya.

Pesantren di era globalisasi

Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai benteng pertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual. Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya. Dan kami yakin pesantren akan menjadi satu-satunya institusi ke-islaman yang akan tetap eksis sampai akhir zaman.karena bangsa Indonesia ada karenanya dan tanpanya Indonesia seakan tak bertaring. Karena saya melihat pesantren adalah penyelamat pendidikan di Indonesia.Bravo pesantren…!

Indonesia (belum) merdeka  

Diposting oleh defrin


Kata "merdeka" menurut kamus bahasa Indonesia yaitu bebas dari penjajahan dan penyembahan.kalau kita mendefinisikan kata "merdeka" dalam lingkup yang luas, maka kita akan mendapatkan bahwa Indonesia saat ini masih dalam penjajahan dan penyembahan.dalam artian, kita disini mendefinisikan penjajahan bukan hanya dalam artian menguasai dan memerintah suatu negeri , akan tetapi lebih luas dari arti aslinya. hingga akhirnya yang ada pada benak saya saat ini bahwa
''indonesia belum merdeka'' penjajahan di Indonesia belum 100% musnah, diantaranya penjajahan terhadap kultur dan budaya. Bentuk penjajahan yang semacam ini saya umpamakan dengan penyakit AIDS, awal mulanya tak berdampak apa-apa tapi finisnya bisa merenggut nyawa seseorang.
saat ini kita tidak pernah merasakan adanya budaya luar yang masuk, tapi pada kenyatannya budaya itu telah merenggut budaya kita perlahan-lahan.hal semacam itu menyebabkan budaya kita akan mati dan Negara kita akan menjadi Negara yang tidak berbudaya.
Penjajahan model tersebut menyerang kita dalam 3 aspek.,
Pertama: style, mereka menjajah kita pertama kali denagn gaya pakaian kita, karena menurut mereka pakaian adalah symbol dari suatu bangsa.mereka merobek pakaian adat kita dan menggantinya dengan pakaian adatnya.mereka dengan tega mengganti kebaya dengan rok mini.
Kedua: pemikiran, penjajahan ini sebenarnya telah dilancarkan sejak tahun 80-an, tapi akhir-akhir ini penyerangan model ini mulai marak kembali. mereka dengan lihainya mengadudomba suatu golongan antara kita.lihat saja umat islam dipecah belah hingga akhirnya tak jarang sesama muslim harus terlibat adu fisik. Seperti itulah mereka menyerang kita.
Ketiga: financial, penjajahan model terakhir ini merupakan serangan yang paling ampuh,yaitu pada sektor ekonomi, saya katakan ampuh disini karena ekonomi merupakan titik inti dari suatu bangsa.suatu bangsa bisa dikatakan maju apabila ekonominya berkembang, sebaliknya apabila ekonominya lemah maka yang terjadi adalah kemunduran bangsa tersebut.
"Indonesia belum merdeka", terbukti pada akhir tahun 2004 jumlah penyandang buta huruf di Indonesia tercatat 10,5% dari total penduduk Indonesia. Dijelaskannya, sebagian besar buta huruf terjadi pada kaum perempuan yakni sebanyak 13,5%. Dan ini selaras dengan meningkatnya anak-anak jalanan dan pengangguran di Indonesia, seakan-akan pemerintah kita telah tutup mata denagn problem seperti ini.meskipun pada tahun 2006 Mendiknas Bambang Sudibyo menyatakan, pemerintah optimistis bisa menekan angka buta huruf hingga tinggal 5% pada 2007.tapi itu hanya menjadi opini saja tanpa ada realisasi yang pasti. Padahal pendidikan merupakan ujung tombak dari suatu bangsa yang berkembang, bagaimana bisa dikatakan bangsa itu berkembang kalau masalah pendidikan saja pemerintah tidak becus.
"Indonesia belum merdeka", menurut Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 menjadi 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total penduduk Indonesia. Dan hal semacam ini menyebabkan banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena mereka lebih mementingkan kelangsungan hidup mereka dari pada harus sekolah.seakan-akan pemerintah kita tidak pernah mendapatkan solusi dalam menanggulangi tingkat kemiskinan penduduknya. Yang ada malah masyrakat miskin bertambah dan gaji pemerintah melangit. Padahal Pengentasan kemiskinan dan kebodohan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan satu sistem pendidikan nasional yang harus kita persiapkan secara matang agar mampu mengantisipasi tantangan masadepan.
Terakhir, semoga bangsa kita dapat ke luar dari penjajahan yang berkepanjangan ini, dan dapat segera memenangkan perjuangan untuk tetap memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Perjuangan untuk membangun Indonesia baru memerlukan kerja keras dan motivasi yang tinggi seluruh komponen anak bangsa dari Sabang hingga Merauke.supaya tidak ada lagi teriakan-teriakan yang mengatakan bahwa"Indonesia belum merdeka",