Dongeng Kehidupan  

Diposting oleh defrin

Kapan kita menikah?

Kelak kala rembulan sempurna di cangkangnya, kita akan menari bersama orkestra malam, syair sahdu para sufi kan menjadi lantunan mabuk diantara arak-arak surga yang mengintip sinis percintaan kita, hingga ketika rembulan telah lelap pada pangkuan gelap, kan kupersembahkan ritual rindu yang sejak dulu kaku di ranting bisu.
Dan malam itu, tak kan ada lagi lagu pilu yang tak layu, semuanya telah menjelma nyanyian perayu nan syahdu.

Diam-diam kau tlah bermain di dadaku, bak seorang bayi yang haus susu ibunya, sesekali kupandangi wajahmu yang basah oleh embun yang menetes dari kelopak mawar, hingga bibirmu yang delima tak pernah bisa menyelam dalam tangkainya, lantas matamu, oh...dimana kau simpan ketajamannya, sudah tumpulkah ia oleh kekanak-kanakanmu?

Asa yang kau genggam, gelora yang mendekam, cinta yang dulu terpendam, malam ini telah pulang pada pangkuan awan, yang dibawanya ke dasar lautan hingga melahirkan anak-anak hujan, aku bertanya padamu, adakah malam ini hujan membawa kedinginan?
kau diam, kakimu menerjang, tubuhmu karam, tenggelam!


Kapan kita punya anak?

Benih yang dulu kita tanam di taman mawar, hendak keluar menyiumi kumbang, meski tak kulihat, tapi aku mendengar sebuah tangisan yang rindu akan pelukan dan belaian, kau harus tegar Sayang, kataku selimuti kegalauan.

Pada gunung yang katanya tegak, pada lautan yang katanya curam, pada karang yang katanya kasar, kau berteriak lantang, oh...adakah yang lebih tegar dari seorang perempuan?
Mereka hanya diam, ketika lanskap mawar yang mengeram dalam tubuhmu tiba-tiba terkapar di sisi bantal.

Selamat datang Mawar, disini, di gubuk sunyi.


Jangan tinggalkan aku Sayang!

"kutunggu kau di dunia lain, kita tuntaskan dongeng kehidupan"

Karena kita hanyalah usia, sedangkan cinta tak mengenal usia

Menulislah Sayang  

Diposting oleh defrin

Menulislah Sayang

Pada bebatuan yang kan kau jadikan nisan, hingga saat kau lupa jalan pulang, goresanmu di nisan itu yang kan membawamu terbang, menuju sebuah persinggahan ilalang.

Karena sungguh, perjalananmu amat panjang Sayang, kelak kau kan temukan beberapa makhluk tuhan tersesat di jalan, kau akan sebrangi lembah antah berantah yang dihuni kumbang jalang, kau juga kan selami pulau merah berdarah yang siap menjarah hingga kau pasrah, sebelum itu terjadi, buatlah sketsa sejarah, agar jalanmu lebih terarah.


Menulislah Sayang

Dalam temaram malam yang mencekam, ketika kau rindu dekapan hujan, ketika kau bermimpi pulang, ketika bekas kecupan bunda mulai hilang, goreslah warna malam Sayang, agar rembulan bisa menyampaikan kerinduanmu yang mendalam, agar cahaya bintang mau mengisyaratkan harmoni kasih sayang, meski sebenarnya rindu dan kasih sayang tak pernah dapat diilustrasikan.

Menulislah Sayang

Pada lembaran usang di tepian gurun gersang, kelak kala badai menerjang, ada sebongkah kenangan yang kan menopang kakimu, ada sehesta kesetiaan yang kan menuntunmu ke tepian sungai.

Jangan pernah bermimpi mengenyahkan luka, selama kau masih berani bercinta, jangan pernah berhayal meninggalkan duka, karena semakin kau berusaha, semakin pula kau akan sengsara.
Ingatlah Sayang, sebelum kau lahir ke dunia, rohmu telah telah meneken kontrak antara kau, alam dan kehidupan,

Kehidupan yang menjadikanmu ada, penantian yang membuatmu sedikit luka, meski lukanya tak membuatmu mati, tapi bekas dari luka itu kan terus membayangi langkah kakimu, hingga saat kau butuh kekuatan, menyelamlah kembali pada lembaran-lembaran usang yang kau pahat bersama kenanganmu disana.


Menulislah Sayang

Karena hanya dengannya, kau dapat bertahan dari banjir tangisan, tidak hanya sebatas tangisan luka, melainkan cinta yang merana.

"aku tak bisa menulis" katamu sungkan
"mengapa harus ada kata tak bisa, selama keinginan masih ada"

Cita-cita Anak Yatim  

Diposting oleh defrin

"Aku ingin seperti BJ. Habibi Ma", kata seorang anak pada ibunya setelah mendengar kematian ayahnya

NB: Fiksimini diatas diiukut-sertakan dalam Kontes Fiksimini yang diadakan oleh wi3nda

Ketika Mataku Sudah Bosan Menjadi Mata  

Diposting oleh defrin

Apa yang kau lakukan ketika aku terkapar sendirian, mencoba melawan sekarat, di ruang gelap yang pengap oleh asap?

Apa yang kau perbuat katika aku tertindih tubuh malaikat, berusaha menentang kodrat yang menjilat sekujur tubuhku hingga karat?

Apa yang kau kerjakan ketika mataku sudah bosan menjadi mata, ketika bibirku sudah bosan menjadi bibir, ketika ragaku sudah jengah menjadi raga, ketika jiwaku sudah hengkang dari sukmanya?

Tak perlu kau jawab, cukup kau ikat saja pertanyaan itu di sela-sela jantung dan hatimu, agar kau tahu, disanalah cinta itu tumbuh, dan dari sanalah cinta itu kambuh.

Hari itu, aku sungguh butuh kamu, butuh dekapan mayamu, butuh belaian ilusimu, butuh bayanganmu, sekedar maya, ilusi dan bayang saja, tidak harus benar-benar nyata dan ada, karena aku sadar, cinta tak mengenal dunia, tengoklah, dunia tuhan dan manusia beda, tapi manusia bisa mencintainya. itulah cinta...

Lantas dimana kau simpan kata Aishiteru-mu itu? yang pernah terungkap dengan airmatamu, yang pernah kau tulis di nadimu, yang pernah kau ukir di otak kirimu, dimana kau simpan kata itu? hanyakah kata yang tak bermakna, yang muncrat akibat gesekan ego dan nafsu?

Masih ingatkah kau, ketika kau lafadzkan Aishiteru, bukan sarengheoo yang kujawab, melainkan bahwa cinta lahir dari rasa dalam jiwa, bukan dari kata dan aksara.

Tiap malam menerjang rembulan, aku selalu berusaha menjadi bintang, yang menyeimbangi kecantikan cahayanya, agar kau terbiasa dengan cahaya kecil tapi tak menyilaukan, sehingga, ketika rembulan kelam oleh awan hitam, kau akan terbiasa dengan lentera kecil buatanku, lalu kau kan tersadar, bahwa cinta tak pernah mengenal kesempurnaan.

Aku pernah menamaimu mentari, aku juga pernah memanggilmu pelangi, tapi dulu, malah aku juga pernah menyebutmu ibu, sekali lagi, itu dulu.
lantas sekarang, adakah mentari pernah ingkar mengelus-elus tubuh bumi? adakah pelangi pernah absen menyetubuhi matahari? adakah seorang ibu tertawa sendiri ketika melihat anaknya mati berdiri?

Terakhir, ingin kukatakan padamu, "kamu TIDAK PERNAH mencintaiku, TIDAK PERNAH, BAHKAN TIDAK AKAN PERNAH".