Leuwipanjang  

Diposting oleh defrin

I

Tentu kau masih ingat, saat kita menerobos ke dunia nyata, sebuah dunia yang sebenarnya, kita sendiri tak pernah tahu, mengapa kita berada disana. Malah, katamu dulu, mustahil bila kita bisa masuk dalam dunia tersebut, dengan satu alasan: Dunia kita berbeda.

Dan saat ini, kita tidak hanya berada di dalamnya, melainkan bahkan, kita sudah bermain-main disana. Apa itu yang mereka maksud dengan "Optimistis adalah energi positif"?

Memang, pada awalnya, kita ragu untuk memulainya, bahkan untuk mengucapkan satu hurufpun, lidah kita seakan kelu, mulut kita sepertinya bisu, tapi saat gerimis datang tiba-tiba, kita malah menafsirkannya sebagai isyarat untuk segera merapatkan tangan kita, sambil berlari kecil menuju musholla terminal, kita mencoba menyusun bahasa.

Saat itulah, anatomi pertama digelar.

II

Dunia kita yang baru, sepertinya tidak mengenal waktu. Tak ada malam, juga tak ada siang, tak ada bulan, juga tak ada bintang, begitupula dengan jarak, mengapa di dunia kita hanya ada satu jarak; Dekat?

Tapi lama-kelamaan, kita juga mulai bosan dengan ketidakadaan mereka.

"Jadi kau sudah mulai merindui malam?"

"Bukan, bukan rindu namanya, toh, rinduku sudah seluruhnya membeku di balik dadamu"

"Lalu?"

"Aku hanya butuh malam sebentar, untuk sekedar membandingkan kemesraan kita dengan kebersamaan bulan dan bintang"

III

Detik ini, kita sudah meninggalkan dunia itu, kau kembali menjelma hujan, dan aku kembali menjadi kemarau.

Dan kita harus menjalaninya masing-masing, kau kembali kedinginan, dan aku mulai membiasakan diri kekeringan. Kau yang selalu ditemani kebisingan, dan aku yang selalu kesepian.

Tapi kita tidak pernah bersedih akan perbedaan tersebut, karena selama kita berada dalam dunia tadi, tanpa kita sadari, kita telah mendalami satu pelajaran penting, bahwa: hanya ada satu hal, yang bisa membuat ketidak-adaan menjadi ada, satu hal, yang bisa merubah duka menjadi tawa, satu hal, yang menjadikan mimpi benar-benar nyata, ialah: ..... (Belum sempat kutulis, hatimu sudah bergetar)

Mimpi (Saya) Saat Menjadi Seorang Bapak  

Diposting oleh defrin

Subuh masih ragu menampakkan fajarnya

mataharipun kelu menyampaikan sinarnya.

Aku berdiri di depan sebuah pintu

meratapi bocah mungil yang

tengah menyulam mimpi kecilnya

"Maaf Nak, Bapak hanya bisa menyediakanmu mimpi"

Karena dibalik mimpilah

harapan itu tumbuh

kini, tak ada lagi nyanyian kodok yang kelaparan

atau suara jangkrik di pematang, melainkan

suara mesin mobil yang hingar-bingar

sesekali teriakan kondektur tua seberang jalan

"Nak, keluarlah, hadapi duniamu, lalu carilah benih-benih mimpimu semalam"

Disini, tepat di nadimu

kami sisipkan doa-doa dan

harapan

Kopi sisa kemarin masih bisa memoles bibirku

sebab, akhir-akhir ini

istriku sudah jarang ke dapur

katanya, ia lebih suka menyanyi daripada menanak nasi

"Pak, hari ini kita mau makan apa?"

Ah...ternyata cinta tidak selamanya berkuasa


Kehidupan  

Diposting oleh defrin

1.

Jika kau telah sampai pada

dasar lautan, akan kau temukan

sesungguhnya kehidupan


Siang kau harus sendirian

kau petang selalu kesepian

malam juga kedinginan

tak seperti ikan-ikan itu bukan?


itulah salahmu, dulu

kau lebih suka memancing

ikan-ikan daripada

memberinya ia makan


kini lihatlah,

roda kehidupan benar-benar berputar


2.

Hidup itu sungguh keras

lantas mengapa kau hadapi dengan kasar?

belajarlah pada ikan-ikan yang

ditampar ombak siang malam

kesakitankah ia?


atau,

coba kau renungi daun hijau

yang jatuh pada bebatuan

terkelupaskah kulitnya?


Hidup itu memang keras

lantas mengapa masih kau hadapi dengan kasar pula?


3.

Jangan bergembira dulu

saat perahumu sudah sampai di pelabuhan

Karena, kadang

kegembiraan adalah awal dari sebuah cobaan


Tengoklah sejenak ke belakang,

bisa saja kau lupa mengikat jangkar

Karena, kadang

masa silam adalah guru di masa mendatang


4.

"Sayang, seberapa banyak cintamu padaku?"

tanyamu di sebuah tempat pemancingan

"Sebanyak ikan-ikan yang kau beri makan"