Mabuk  

Diposting oleh defrin

Seperti halnya tubuh, cintapun butuh peristirahatan.

Dari lelahnya pertikaian, demi sebuah perbaikan.

Dari kerasnya kehidupan, untuk keabadian.

Dari jauhnya perjalanan, demi pencapaian.

Dari sakitnya penderitaan, menuju kesetiaan.

Dan dari gempuran dosa, untuk satu cita;

Surga.

Memandangmu, seakan membawaku pada sebuah taman anggur di musim gugur, buahnya yang ranum, rantingnya nan lentur, dan daunnya yang mulai menguning akibat fotosintesis matahari, serta aliran sungai kecil yang menari diatas bebatuan, menjadikan buah-buah anggur diatas sana, seperti sepasang kekasih, yang tengah duduk diatas pelaminan.

"Kau tahu, mengapa aku membawamu ke tempat ini?"

"Bukankah Kau tidak pernah jujur padaku tentang apapun, kecuali tentang cinta?"

"Lihatlah anggur itu, apakah mereka pernah hidup tak bersamaan?"

"Lalu, hanya alasan itu saja?"

"Mereka mabuk pula memabukkan"

Aku terdiam, saat tanganmu memetik dua buah anggur merah diatas kepalaku.

"Ini untukmu, dan ini untukku, makanlah! Sekedar meredam lahar dalam jiwa kita"

Pagi menyongsong, lalu kudapati tubuhku tengah terhempas diatas batu kecil, tempat persembunyian bunga violet semalam. Tapi mengapa tak kutemukan tubuhmu? Apakah ini hanyalah ilusi dari kerinduanku padamu?

Lantas, bagaimana dengan sisa anggurmu semalam, yang masih melekat di bibirku, wangi kasturi yang kau taburkan di tubuhku, juga masih mengecup hangat di leherku. Apa ini yang kau sebut "mabuk pula memabukkan?"


Ujian  

Diposting oleh defrin

Sungguh, tak ada lagi mimpi tentang bidadari, yang sutera gila pujangga, yang diperkosa serigala bermata cinta, lenyap begitu saja.

Menyisakan puing-puing dibalik cadar gulita, hanya setapak jejak membekas di labirin nestapa, oh...inikah kehidupan? tapi mengapa hampir mirip dengan kematian? atau jangan-jangan ini kuburan? hanya hitam yang menjawab pertanyaan malam.

Siang menabuh genderang, saat anak hujan tengah berlarian di taman, memainkan ilalang yang terbang bersama layang-layang, tapi sayang, tali layangan tersangkut di tubuh seorang perempuan, hingga akhirnya, anak hujan terpaksa pulang sendirian.

Langit berlipstik jingga, merayu kabut agar terlelap di dadanya, ia turun mendekati gunung, sesekali mencibir rembulan yang terluka,

"Hai Rembulan, bertahankah kau dengan luka di tanganmu?"

"Tak tahukah kau arti luka Kawan, ia adalah cinta yang sempurna"

Subuh jatuh dalam pelukan mentari, bersamaan dengan daun kering yang tengah menari diatas tubuh bumi, sesekali melirik pada kupu-kupu kecil yang mengais harap diatas selembar anggrek biru.

"Malang nian nasibmu Kupu" ucap seekor lebah yang satu sayapnya sudah patah

Inikah ujian hidup? atau lebih tepat disebut bertahan untuk hidup? atau mungkin ini adalah salah satu resiko hidup?

Angkot Hijau II  

Diposting oleh defrin

Hari ini, aku dan kamu sudah tak lagi berdua dalam satu angkot, musim hujan yang selalu membawa hawa dingin pada kemesraan kita, kini telah beralih ke musim kemarau, bahkan warna baju kita yang selalu satu warna, saat ini, sudah kian memudar. Tapi apakah hal demikian juga berlaku pada cinta kita?

"Kau percaya akan adanya jodoh, Sayang?" Ah...ternyata kemarau tak pernah mampu mengeringkan rindu

"Hanya sekedar percaya, dan tak meyakininya"

"Maksudmu?" Lagi-lagi alismu meretakkan lengkungan pelangi

"Apa kau kira, Mesir dan Piramida hanyalah peristiwa kebetulan jodoh belaka? Tidak, Sayang. Proses pembangunannya saja membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun dengan mempekerjakan lebih dari sepuluh ribu budak, Apakah itu kebetulan?"

"Lalu?"

"Bagiku, jodoh bukanlah misteri alam, karena diatas segala hal adalah Akal, dan akallah yang akan mendorong sebuah perilaku, sedangkan perilaku tersebut akan melahirkan sebuah nilai, nah nilai itulah yang disebut dengan Jodoh"

"Lalu apakah kita berjodoh?"

Belum sempat kujawab, kau telah lebih dulu meminang rembulan.

Malam ini, aku dan kamu sudah tak lagi memetik satu bintang, kau lebih suka pada Venus, sedangkan aku, lebih cinta pada Mars. Tapi bukankah keduanya akan selalu mengitari matahari?

Dan pada suatu saat nanti, Venus dan Mars akan berdekapan mesra di sisi rembulan.

Pagi ini, aku dan kamu sudah tak lagi menikmati hujan sisa semalam, kau lebih suka berlari mengejar matahari, dan aku, masih berdiam diri dengan secarik puisi

"Untuk apa lagi Kau menulis puisi?"

"Sekedar mengabadikan kenangan, karena mencintaimu, adalah mencintai kenangan"

"Apa Kau ingat dimana cinta itu dilahirkan?"

Belum sempat kau jawab, kau telah hilang ingatan.