Cadar  

Diposting oleh defrin

Aku suka memakai cadar, di kampus, di terminal, di mall, di pasar, bahkan di tempat lokalisasi-pun pakaian itu tak pernah lepas dari wajahku.

Pernah suatu ketika, sepulang dari kuliah, seorang laki-laki menghampiriku dan berkata "kok wajahnya ditutup Mbak? Jangan-jangan kumisan ya?,"
"cantik-cantik kok kumisan" seorang lagi menyahut dari belakang, lengkap dengan gelak dan tawa yang menggelegar. Tak kuhiraukan ejekannya, toh mereka tak punya hak apa-apa terhadapku termasuk wajahku.

***

"Pakai cadar enak juga" itulah kira-kira hasil perenunganku ketika sedang berkencan dengan pacarku, tangan nakalnya tak berani lagi bermain liar di dadaku, mata binalnya tak jelalatan lagi memelototi tubuhku, apalagi bibirnya, bibirnya sudah mati rasa, tak pernah lagi berlutut di bibirku, meski sebenarnya bibirku kangen dengan sentuhan bibirnya, tapi mungkin dia malu atau segan mengulumnya dibalik cadarku.

Sudah setahun lamanya, wajahku tak pernah lucut dari cadar, setahun itu pula, telingaku mulai gatal dengan rongrongan masyarakat sekampung, cemooh orang-orang di sekelilingkupun mulai ramai terdengar, mereka menuduhku sebagai teroris, mereka mengata-ngataiku sebagai orang yang tak punya rasa percaya diri, mereka menghinaku sebagai orang yang tak memiliki wajah, tak ketinggalan dengan adik lelakiku, dia malah memanggilku dengan Ninja Hattori, Spiderman girl, atau pahlawan bertopengnya Sinchan, pertama kali mendapat julukan itu, aku cuek bebek saja, toh dia masih kecil, masih belum mengenal dunia remajaku yang penuh lika-liku, malah aku bisa mengambil beberapa hikmah dari ejekannya, salah satunya adalah "sesuatu yang baru selalu ditentang", sama halnya dengan pengantin baru, ketika malam pertama, pengantin perempuan pasti kaku, tapi setelah malam berikutnya pengantin laki-lakilah yang terpaksa mati kutu, ya..itulah "baru" selalu menjadi hantu.

***

Ketika rembulan telah membuka cadarnya, gelap telah menyibak tabir terang, lampu-lampu di jalanan mulai menghiasi trotoar jalan, aku melangkah keluar rumah, dengan tank-top berwarnah agak transparant, rok ketat sampai paha sesekali memperlihatkan keindahan kakiku, rambutku, kugerai agar aroma Conditioner yang kupakai setelah keramas bisa kubagi-bagi pada hidung busuk, Chanel's parfum, hadiah ulang tahun dari pacarku tercium ke sela-sela lorong jalan yang kulalui, di sampingku segerombolan laki-laki sedang asyik bermain kartu, rokok dan minuman keras menyertai permainan mereka, aku lewat depan mereka, dengan wajah tertunduk malu ke bawah, meski siulan-siulan nakal terdengar menyeimbangi irama pinggulku yang meleok-leok, tapi tak pernah kugubris walau dengan satu senyuman saja.

Kuteruskan langkahku menyeruak lorong yang dipenuhi kerikil dan bebatuan, tak kurasa, tiba-tiba satu pukulan kasar menempel di pantatku, aku kaget, meski juga senang, ternyata ada juga yang perhatian pada pinggulku, aku tersadar dan cepat kubuyarkan lamunan keji itu, tubuhku langsung terperanjat, wajahku memerah seketika, ingin kuhantam pemukul tadi dengan batu di depanku, lalu kupatahkan tangannya dengan kayu di sampingku, kemudian mulutnya, ingin kujejali dengan celana dalamku, agar otaknya tersumbat darah haidku.

Setelah mengumpulkan beberapa keberanianku, kupalingkan wajahku ke belakang, mataku semakin terbelalak, ketika lima orang pemuda dengan pakaian rombeng tiba-tiba telah berdiri di belakangku, kubatalkan keinginan tadi, yang ada dalam otakku hanya satu kalimat "LARI".

Nafasku sudah tak beraturan, tubuhku bermandikan keringat malam, pelarianku buntu pada sebuah gedung tua tak berpenghuni, mataku mengintai lima laki-laki yang sedari tadi mengejarku, ketakutanku masih membekas dalam jiwa perempuanku lalu menyuruh otak dan kepalaku untuk meneruskan perlarianku, namun sayang kaki tak sanggup merealisasikan perintah dari otak, akhirnya aku hanya duduk setengah jongkok sambil berdoa semoga lima laki-laki tadi tak menemukan persembunyianku.

Aku duduk bersandar pada tembok yang hampir roboh, sekujur kakiku menggigil bagai terjebak di kutub selatan, mulutku tak henti-hentinya melantunkan doa pada Tuhan, meski aku tak tahu apa maknanya, doa masuk WC, doa sebelum makan, doa sebelum tidur dan seabrek doa pelajaran guru agama sejak di SD dulu, tapi toh intinya tak mungkin jauh-jauh mengharap perlindungan Tuhan, karena begitulah sifat manusia, selalu mengadu pada Tuhannya ketika sedang dilanda duka, lalu akan lupa padaNya saat bahagia menyapa, "maklum manusia kan bukan malaikat, yang selalu manggut-manggut pada titahNya" bisik nuraniku.

Jari-jari kasar tiba-tiba mendekap mulutku dari belakang, kucoba memberontak tapi kelemahanku terlalu dominan sehingga kekuatan tanganku tak mampu membuka dekapan tangannya di mulutku, setelah beberapa menit, tangan kasarnya mendekap di mulutku, ia semakin tahu akan kelemahanku, ditariklah sekujur tubuhku hingga aku terjebak pada posisi terlentang, kukumpulkan sejuta kekuatan untuk melawan tangan kasarnya, dan aku berhasil melepasnya sejanak, tapi jantungku semakin copot setelah menemukan dua lelaki telah berada di ujung kakiku, cepat kulayangkan jurus kungfuku pada wajah mereka, lagi-lagi dua tangan kasar menghentikan gepalan tanganku dan menarik tubuhku hingga tak ada yang bisa kuperbuat kecuali pasrah.

Setelah beberapa menit, tubuhku makin menggigil, setelah tank-top yang kukenakan mulai meninggalkanku satu persatu, tak hanya sampai disitu, rok mini yang sedikit menghangatkan pahaku kini telah tersibak tangan nakal mereka, tapi setelah beberapa detik, tiba-tiba dingin yang menyerang sekujur tubuhku hilang seketika, terganti kehangatan yang belum pernah kurasakan selama hidupku, kucari sumber kehangatan yang tiada tara itu, ternyata tanpa seizing dariku, tubuhku telah tertindih tubuh seorang lelaki bertopeng gelap, mataku gelap, pikiranku lenyap, sel-sel darahku berlari ke ubun-ubun, peluh demi peluh telah mengalir dari pori-pori tubuhku, tak ada kedinginan pada saat itu, hanya perih yang meliliti di sela-sela selangkanganku.

Sejak kejadian biadab itu, mentalku turun, jiwaku tak karuan, satu-satunya mahkota paling berharga telah dirampas lima orang lelaki, bibit-bibit dendam pada semua lelaki mulai tumbuh dan bersemi dalam jiwaku, bagiku, laki-laki tak ubahnya kutang, kapan saja boleh ditinggal, tak ada kata cinta suci pada lelaki, yang ada hanyalah sebatas permainan selangkangan, itu saja.

***

Aku suka memakai cadar, busana itu adalah senjata terampuhku, karena pakaian itu telah banyak membantu dalam pelampiasan dendamku pada lelaki, meskipun kata guru ngajiku dulu, balas dendam adalah perkara yang sangat dimurkai Tuhan, tapi nuraniku selalu mencari alasan untuk membenarkan perbuatanku.
"toh mereka telah merampas kehormatanku, tapi Tuhan tenang-tenang saja tuh, tak ada tanda murka Tuhan buat mereka."

Proses dendamku pada lelaki sudah beroprasi setahun lamanya, sasaranku adalah lelaki hidung belang yang sudah punya kekasih,\di kampusku, sebanyak delapan laki-laki yang kupacari telah diputus oleh kekasih, ada yang ditampar di tempat umum karena ketahuan menggodaku, ada yang diludahi tepat di wajahnya karena di Handponenya selalu tertampil panggilan keluar dengan nama yang sama "Lusiana Dewiyanti", ada yang disiram soto ayam karena dalam tasnya tersimpan cadar hitam untukku, malah bukan hanya teman kampusku saja, para dosen yang doyan daun muda juga telah aku "preteli," contohnya saja Pak Idrus Shaleh, Dosen Akidah Filsafat Islam yang hari lalu telah ditinggal istri dan anak-anaknya setelah kepergok mengecup kening cadarku, aku heran, mengapa dia mengecup cadarku, bukankah lebih nikmat mengecup bibirku saja, lalu dengan sangat bijak dia menjawab, "yang aku suka darimu adalah cadarmu bukan tubuhmu," ucapnya dalam mobil pribadinya usai mengantarku pulang dari kuliah.
"Tai kucing" bisik hatiku dalam-dalam disusul senyum kecil dari bibirku.

Aku suka memakai cadar, bukan karena agama, bukan karena orang tua, bukan karena pacar, melainkan untuk meleburkan dendam yang terpendam.

This entry was posted on 18.36 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .