Renungan pendek seputar Agama  

Diposting oleh defrin


Banyak orang yang mengekspresikan agama sebagai ritual universal antara Tuhan dan hamba, hingga tak memungkinkan persepsi seperti itu menghasilkan paradigma baru yang melupakan peran peduli sesama, baik manusia, hewan, tumbuhan atau makhuk hidup lainnya, dengan kata lain, manusia beragama dewasa ini terlalu mabuk menyembah Tuhan dari pada peduli terhadap makhluk Tuhan.

Padahal kalau kita melihat secara rasio, Tuhan sudah terlalu Maha dari sang Maha, sudah Esa dari sang Esa, sudah Raja dari segala raja. Satu istighfar, tahmid, takbir, dan sebagainya tidak akan mampu mengurangi atau melebihkan ke-Esaan Tuhan.

Kiranya tak salah apa yang pernah diungkapkan oleh sastrawan yang juga seorang budayawan kondang, Ahmad Tohari penulis novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengatakan bahwa zaman ini banyak umat beragama tapi tidak beragama, dalam arti lain, manusia beragama saat ini belum bisa menafsirkan serta meresapi makna dari agamanya, bagi mereka agama hanyalah wadah akhirat, tempat kematian yang ujung-ujungnya tak jauh dari surga dan neraka, padahal Tuhan sudah mewanti-wanti pada makhluknya untuk tidak melupakan urusan duniawi, wala tansa nashibaka min ad-dunya, tapi mungkin kitanya saja yang ngeyel.

Ritual spritualistik dalam agama bukan tujuan utama dalam mengaplikasikan agama itu sendiri, akan tetapi sebagai sarana yang memfasilitasi manusia untuk berbuat baik, contoh yang bisa diambil adalah ibadah puasa, semua agama di belahan bumi ini mengajarkan pada pemeluknya untuk berpuasa, meskipun dengan ritual dan tatacara yang berbeda, dalam Islam dikenal dengan istilah puasa Ramadhan, dalam Kristen dikenal dengan istilah berdarma (kebiaraan), dalam Katolik lebih dikenal dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP), yakni puasa dan pantang secara resmi selama 40 hari menjelang paskah (pra-paskah) mulai hari Rabu sebelum paskah, Rabu Abu dan diakhiri dengan Jumat Suci. Aturannya, makan penuh sekali, sementara minum tidak diatur, dalam agama Konghucu berpuasa dianjurkan dilakukan setiap hari. Adapun bagi umat biasa alias awam, puasa hanya dianjurkan pada tanggal 1 dan 15 bulan Imlek. Tanggal 1 artinya mati, dan 15 bulan purnama, sehingga jika dihitung terdapat 24 hari puasa sepanjang tahun, begitupun dalam agama Buddha, puasa dilakukan setiap hari kendatipun beda penafsiran dan tatacara puasa dengan agama-agama lain, bagi Buddha puasa tidah harus menahan makan dan minum akan tetapi dengan berbuat baik dan tidak berbuat jahat kita sudah berpuasa, dalam agama Baha'I Waktu puasa adalah 19 hari dari tanggal 2 Maret sampai 20 Maret. 19 hari sama halnya satu bulan, karena dalam penanggalan Bahai satu bulan 19 hari, sementara satu tahunnya terdapat 19 bulan. Setelah menjalani puasa satu bulan penuh, masuklah hari pertama tahun baru Bahai yang dirayakan sebagai hari raya Nauruz.

Lalu yang menjadi kesimpulan dari papaan diatas adalah, bahwa esistensi agama bukan terdapat pada penekanan ibadah-ibadah secara ritual belaka, akan tetapi lebih dari itu bagimana kita mengartikan ritual-ritual tersebut dengan bentuk yang lebih real, lebih bermanfa'at bagi sesama makhluk, lebih nyata, dengan menyantuni fakir miskin, menolong orang-orang tertindas, dan selalu menjunjung sikap toleransi atas perbedaan yang ada.

Ketika kita sudah bisa menginterpretasikan agama dengan kacamata sosial, barulah kita bisa menkritikisi atas apa yang menjadi pemahaman Karl Max tentang agama, bagi dia, agama tidak lain adalah produk dari masyarakat kelas dan merupakan ekpsresi dari kepentingan kelas. Dalam hal ini, agama dijadikan alat untuk memanipulasi dan menindas terhadap kelas bawah dalam masyarakat. Dengan penindasan yang terjadi, agama lalu menjadi tempat untuk mengharapkan penghiburan akan dunia yang mendatang. Dengan kata lain, agama membuat manusia menjadi teraleniasi dari dirinya sendiri.

Pernyataan Karl Max diatas sebenarnya tidak bertentangan sama sekali dengan kondisi yang terjadi di lapangan, mungkin pada masa itu, Karl Max mulai jengah akan kaum beragama yang sama sekali tidak membekas pada jiwanya ruh keagamaan atau ruh Tuhan, hingga bagi dia, agama dan kaum beragama tak lebihnya seekor serigala jahat pemangsa kebebasan manusia, lebih jelas lagi Karl Max menyebutkan bahwa agama adalah keluh kesah mahluk yang tertindas, hati dari suatu dunia yang tak memiliki hati, sebagaimana juga merupakan jiwa dari suatu keadaan yang tidak memiliki jiwa, sungguh pernyataan yang amat miris sekali ketika kita membacanya secara tekstual, akan tetapi bila kita menafsirkannya dengan kacamata positif, mungkin akan lebih membuka mata kita bahwa kritik pedas yang dia lakukan terhadap agama, bukan bertujuan untuk mengkambing-hitamkan agama yang ada, akan tetapi agar kaum beragama, atau paling tidak pemuka agama selalu mengup-date agamanya dengan modernisasi dan kemajuan teknologi yang selalu berkembang pesat, hingga agama bukan lagi perkara kuno yang menakutkan, akan tetapi agama mampu menyerap dan menyeimbangi kemajuan zaman, mengutip dari sebuah hadits "Al-islam sholihun likulli zaman wal makan" (islam selalu relevan di seluruh lini kehidupan), meski hadits itu dari agama Islam, tapi saya yakin agama-agama yang lain juga akan mengamini bahwa agama akan selalu relevan dan berkembang mengikuti arah kemajuan zaman.

This entry was posted on 08.38 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar